- Good News Everyday -

Minggu, 16 Desember 2018

Pengurusan Biometrik untuk Umroh dan Haji Dinilai Mudah

Sejak Kerajaan Arab Saudi memberlakukan biometrik untuk visa umroh dan haji, masyarakat langsung menyerbu VFS Tasheel, pusat pelayanan biometrik dan visa untuk Arab Saudi. Bagi Anda yang belum mengetahui, biometrik merupakan teknologi yang kerap digunakan untuk menganalisa fisik dan kelakuan manusia dalam suatu proses autentifikasi.

Dampak dari kebijakan Arab Saudi ini, membuat warga Jakarta yang sudah terdaftar sebagai jamaah haji maupun umroh mulai berduyun-duyun memadati salah satu pusat pelayanan pengurusan visa Arab Saudi di Jakarta. Keramaian orang mengantre untuk bertanya ke petugas mengenai cara mengurus biometrik atau rekam sidik jari dan wajah.

Salah satunya adalah Meidina (32), pemilik agen travel Bayu Buana. Perempuan berusia 32 tahun ini, datang ke VFS Tasheel mengurus biometrik untuk para kliennya. "Ini hari pertama saya mencoba mengurus biometrik, saya coba sendiri, ternyata mudah," ujarnya.

Sebelum Kerajaan Arab Saudi memberlakukan biometrik prapengurusan visa, biasanya, Meidina akan mengirimkan dokumen di dekat kantor kedutaan besar Arab Saudi di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Dokumen tersebut, katanya, harus pula dilegalisir. "Prosesnya bisa 3-5 hari kerja," tuturnya lagi.

Mediana sangat setuju dengan pemberlakuan biometrik ini. Menurut dia, dengan diurusnya biometrik sebelum keberangkatan, paling tidak orang yang akan umroh atau haji tidak akan mengantre panjang di bandara.

Namun, dia meminta sosialisasi terkait biometrik ini harus lebih masif. Pasalnya, banyak yang tidak tahu perihal ini. Apalagi, orang yang bersangkutan harus datang langsung untuk mengurus biometrik. "Kalau mereka tidak tahu, kan, kasihan," katanya.

Setali tiga uang dengan Meidina, Trimurti (64), pun mengaku proses mengurus biometrik cukup cepat. "Saya tahu dari rombongan umroh ibu-ibu tentang biometrik ini, akhirnya saya coba dan ternyata mengurusnya mudah," kata perempuan asal Kelapa Gading, Jakarta Utara kepada media.

Hanya saja, saat petugas memindai jarinya, sebagai prasyarat biometrik, jari kelingking miliknya tidak terbaca. Namun akhirnya bisa terbaca dan secara keseluruhan proses biometrik ini berlangsung cepat.

"Biometrik ini sangat berguna untuk ke Arab Saudi, jadi menurut saya ini sangat berguna,” lanjutnya.

Sebelumnya, Kedutaan Besar Arab Saudi untuk Indonesia, melalui akun resmi Twitter mereka, mengumumkan terhitung sejak 24 Oktober 2018, semua pengajuan visa ke negara itu harus menyertakan rekam biometrik.

"Kedutaan Arab Saudi di Jakarta memberitahukan kepada Anda bahwa mulai tanggal 14/1/1440 H bertepatan dengan 24/09/2018 M akan memberlakukan registrasi biometrik (sidik jari dan gambar wajah) untuk keperluan semua jenis layanan visa masuk ke Kerajaan Arab Saudi," berdasarkan akun Twitter https://twitter.com/KSAembassyID/status/1042675606704418817.

Dalam unggahan itu juga disebutkan layanan tersebut dapat dilakukan melalui kantor layanan visa dan bio fitur "VFS/TasHeel" yang memiliki 34 kantor yang tersebar di seluruh Indonesia.

VFS dianggap mampu karena telah memiliki pengalaman dalam perekaman sidik jari lebih dari enam tahun dan lebih dari 80 tahun dalam pengembangan paspor diplomasi dan khususnya dalam perekaman sidik jari yang berkaitan dengan paspor.

"Dengan demikian, mampu memberikan layanan bagi yang berkeinginan untuk memperoleh visa karena masih memiliki waktu yang cukup untuk melakukan registrasi sidik jari," lanjut unggahan tersebut. [ ]


Sumber : Berbagai sumber